KILASJATIM.ID – Nahdlatul Ulama (NU) dinilai menghadapi tantangan yang tidak mudah dalam menjaga relevansi dakwah di tengah perubahan cara generasi muda, khususnya di wilayah urban, dalam memperoleh pengetahuan, termasuk pengetahuan keagamaan. Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial kini semakin banyak membentuk pandangan keagamaan melalui algoritma digital, bahkan mulai menjadikan artificial intelligence (AI) sebagai salah satu rujukan keagamaan.

“Dari data yang ada, Gen Z ini hidupnya dibentuk dari ponselnya. Sejak lahir mereka sudah melek internet. Pandangannya ditentukan oleh algoritma, termasuk bagaimana pandangan keagamaannya,” ujar mantan ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Abdullah Azwar Anas, Kamis (27/8/2026).

Anas mengatakan, saat ini terjadi perubahan religiusitas khususnya di kalangan masyarakat urban perkotaan. Modernisasi tidak serta-merta menghilangkan religiusitas masyarakat. Sebaliknya, perubahan sosial dan urbanisasi justru melahirkan cara-cara baru dalam menjalankan kehidupan beragama. Di lingkungan perkotaan, praktik keagamaan tidak lagi semata-mata dibentuk oleh komunitas, tetapi juga dipengaruhi pasar, media digital, dan budaya populer.

Menurut Anas, menilai perubahan lanskap sosial masyarakat Indonesia tersebut perlu menjadi perhatian serius dalam pengembangan dakwah, khususnya bagi NU sebagai organisasi Islam yang selama ini tumbuh relatif lebih kuat dalam kultur masyarakat perdesaan.

”Perubahan itulah yang kemudian melahirkan apa yang dapat disebut sebagai spiritualitas urban. Agama menjadi relatif lebih personal dibanding komunal, menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan batin di tengah tekanan ekonomi serta kesepian sosial yang banyak dialami masyarakat perkotaan,” ujar Anas.

Pada saat yang sama, lanjut Anas, masyarakat urban juga semakin fleksibel dalam menentukan otoritas keagamaan. Kehadiran media sosial membuat seseorang dapat memperoleh pengetahuan agama dari beragam sumber di luar otoritas keagamaan tradisional. Dari sana pengetahuan agama bahkan kerap dipadukan dengan psikologi, motivasi, wellness, sains, dan strategi pengembangan diri.

”Perubahan karakter tersebut menghadirkan tantangan baru bagi dunia dakwah. Organisasi Islam seperti NU perlu terus meningkatkan langkah-langkah inovatif yang sebenarnya sudah mulai dilakukan agar bisa semakin relevan dengan karakter masyarakat masa kini yang lebih cair, kritis, dan terkoneksi secara digital,” tutur Anas.

Beberapa agenda yang perlu diperkuat NU, saran Anas, antara lain regenerasi kader urban, penguatan masjid perkotaan, digitalisasi dakwah, serta pengembangan komunitas profesional. “Dakwah NU juga dituntut mampu merespons persoalan yang dekat dengan kehidupan kelas menengah perkotaan, seperti kesehatan mental, teknologi, entrepreneurship, kecerdasan buatan (AI), hingga perkembangan sains,” jelasnya.

Anas juga menekankan pentingnya membangun dialog antara wahyu, akal, dan temuan ilmiah dalam dakwah yang dilakukan. Karakter kaum urban dan generasi muda yang semakin kritis serta berbasis bukti membuat pendekatan keagamaan perlu mampu berdialog dengan perkembangan pengetahuan modern.

”Tradisi dakwah NU yang selama ini memiliki kekuatan pada fikih, tafsir, dan akhlak, ke depan perlu diperluas lewat penguatan kemampuan dakwah yang dapat menghubungkan khazanah keislaman dengan perkembangan sains, ekonomi digital, AI, dan berbagai disiplin ilmu kontemporer,” ujarnya.

Salah satu tantangan utama, menurut Anas, adalah keterbatasan sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu keislaman klasik sekaligus ilmu modern. “Ke depan, diperlukan lebih banyak kader NU yang memiliki kemampuan interdisipliner, seperti ahli fikih yang memahami bioteknologi atau pendidik pesantren yang menguasai ekonomi digital,” tutur Anas.

Anas menambahkan, di tengah perkembangan media sosial, otoritas pengetahuan juga semakin terfragmentasi. Masyarakat urban dapat dengan mudah memperoleh penjelasan mengenai kesehatan, teknologi, maupun sains dari dokter, ilmuwan, dan content creator. ”Karena itu, NU perlu membangun kolaborasi dengan komunitas ilmiah agar dakwah tetap relevan dan mampu menjawab persoalan masyarakat,” ujar mantan ketua Ikatan Sarjana NU (ISNU) Jatim tersebut.

Namun, Anas mengingatkan, integrasi dakwah yang memadukan agama dan sains juga perlu dilakukan secara kritis. Era modern dapat memunculkan dua kecenderungan ekstrem, yakni saintisme, ketika sains dipandang sebagai satu-satunya sumber kebenaran, dan anti-sains, ketika temuan ilmiah ditolak hanya karena dianggap bertentangan dengan pemahaman keagamaan tertentu.

”Dalam konteks ini, tradisi intelektual NU sebenarnya memiliki potensi untuk mengambil jalan tengah dengan mempertemukan wahyu, akal, dan pengalaman empiris,” kata Anas.

Anas menggarisbawaahi, perubahan lansekap dakwah di masyarakat urban pada akhirnya bukan sekadar dijawab dengan memindahkan pengajian tatap muka ke ruang digital. Tantangannya jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana dakwah agama tetap hadir sebagai sumber makna dan pedoman kehidupan ketika masyarakat semakin individual, beragam, kritis, dan berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang sangat cepat.

”Karena itu, masa depan dakwah NU pada masyarakat urban membutuhkan bukan hanya lebih banyak konten keagamaan secara digital, tetapi juga kader, komunitas, dan otoritas keagamaan yang mampu memahami bahasa kehidupan masyarakat urban,” pungkasnya. (NSR)