KILASJATIM.ID – Pemerintah terus memacu berbagai strategi demi mengejar target swasembada daging sapi dan susu nasional. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah tingginya tingkat kesulitan dalam mendatangkan sapi indukan ke dalam negeri guna menggenjot populasi ternak lokal.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengakui bahwa pengadaan sapi indukan berkualitas bukanlah hal yang mudah, di tengah tingginya kebutuhan nasional di mana Indonesia masih harus mengimpor rata-rata 1 juta ekor sapi per tahun.
“Kan enggak mudah juga tuh dapat indukan. Bisa dari Eropa, bisa dari Brasil, dan lain-lain,” ujar Zulhas di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah kini tengah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) percepatan swasembada daging sapi. Regulasi ini bakal menjadi payung hukum untuk menjalin kerja sama impor sapi indukan unggul dari berbagai negara produsen utama dunia, seperti Brasil dan sejumlah negara di Eropa.
Langkah ini diambil guna mengikis ketergantungan Indonesia pada Australia yang selama ini menjadi pemasok utama. Selain Brasil, pemerintah juga telah membuka keran sumber pengadaan dari Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Meksiko. Brasil menjadi prioritas utama mengingat statusnya yang telah diakui Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai zona bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tanpa vaksinasi dengan populasi mencapai 200 juta ekor sapi. Sapi jenis Girolando asal Brasil juga dinilai memiliki daya tahan yang sangat cocok dengan iklim tropis Indonesia.
Program pengadaan ini terintegrasi dalam Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) dengan target mendatangkan masing-masing 1 juta ekor sapi perah dan sapi pedaging hingga tahun 2029 mendatang.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa seluruh skema pendatangan sapi indukan ini dilakukan murni melalui investasi mandiri pelaku usaha tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Per 10 Juli 2025, realisasi pendatangan sapi indukan telah mencapai 25.097 ekor yang terdiri atas 11.375 ekor sapi perah dan 13.722 ekor sapi pedaging. Capaian ini melonjak signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya berkisar 6.000 ekor per tahun dengan menggunakan APBN. Sebagian besar sapi indukan yang didatangkan berada dalam kondisi bunting sehingga diharapkan dapat memberikan dampak instan pada kenaikan populasi lokal.
Penguatan populasi ternak ini dipandang sangat mendesak. Data Kementan mencatat populasi sapi potong nasional per Februari 2025 berada di angka 11,7 juta ekor. Sementara produksi susu segar dalam negeri baru mampu memasok 21 persen dari total kebutuhan nasional sebesar 4,6 juta ton per tahun, di mana 79 persen sisanya masih ditopang oleh impor.
Nantinya, pasokan susu dan daging yang dihasilkan dari program percepatan ini akan diproyeksikan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menargetkan kemandirian total pada sektor daging dan susu dalam kurun waktu 5 hingga 6 tahun ke depan. (BKW)

